Passion (kegemaran ; keinginan besar), kata yang nggak asing kita dengar walau berasal dari bahasa asing. Setiap orang pasti punya kegemaran, hobby, atau mungkin suatu aktivitas yang senang kita lakukan. Sering kita dengar kalau hobby atau kegemaran bisa dijadikan bakat atau cita-cita jika kita fokus terhadap kegemaran tersebut. Tapi nggak sedikit dari kita yang tidak berkeinginan untuk mengembangkan hobbynya.
Saya ingin mengutarakan pendapat saya bahwa seseorang butuh dukungan dari orang-orang di sekitarnya untuk mengembangkan hobbynya. Sering kita "dibodohi" dengan kata-kata "nilai jelek begini, mau jadi apa ?" "masuk jurusan kuliah ini, mau jadi apa ?" kalimat yang membuat mental seseorang menjadi down. Sekarang gini deh, tiap orang punya cita-cita yang tidak mengharuskan orang tersebut untuk menguasai semua bidang. For example, seorang seniman tidak harus pintar dalam fisika. Seorang politikus tidak harus pintar kimia, seorang pengusaha tidak harus pintar biologi, begitupun seterusnya. Itu lah kenapa sistem pendidikan di negara maju memprioritaskan siswanya untuk fokus dalam bidang dan bakat mereka.
Di sini saya mau sharing sedikit dimana saya termasuk ke dalam seseorang yang harus mengubur mimpinya untuk sementara karena belum ada dukungan dari orang-orang di sekitar terutama Ibu. Ya, seperti yang udah pernah saya katakan, saya punya cita-cita menjadi seorang diplomat / editor tapi di sisi lain Ibu saya belom memberi dukungan. Ia punya keinginan sendiri untuk anak-anaknya. Sedih memang, dimana mimpi yang udah kita bangun sedemikian bagus harus pupus untuk sementara. Terlebih belum didukung oleh orang tua sendiri. Saya tahu setiap orang tua ingin anak-anaknya sukses dan berhasil, that's why mereka terkadang menuntut anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau dan menurut mereka adalah yang terbaik. Padahal menurut saya, orang tua memang berhak memberikan saran atau ide untuk masa depan anaknya tapi keputusan kembali kepada individu masing-masing. Kalo memang semuanya udah diatur oleh orang tua, lantas untuk apa anak-anak sejak kecil punya cita-cita ? Toh, kedepannya orang tua yang menentukan. Entah ini pemikiran turun temurun atau memang sudah menjadi budaya kita. Karena menurut info yang saya dapat, di negara maju, seorang orang tua akan membebaskan anaknya untuk berekspresi dan memfokuskan bakat mereka. Bahkan sistem pendidikannya pun memberi prioritas kepada muridnya untuk fokus dengan bakatnya agar terus diexplore. Di negara maju, saat jenjang SMA, seorang murid berhak memilih bidang mana yang ingin mereka pelajari sesuai dengan passion mereka. Jika muridnya senang bermusik, maka ia bisa masuk dalam kelas musik dan mengexplore bakatnya. Sejujurnya, saya lebih setuju dengan sistem pendidikan seperti itu. Sedangkan di Indonesia sendiri, jurusan di SMA masih harus dibagi-bagi lagi. Contohnya jurusan IPA yang masih terbagi menjadi biologi, kimia, fisika, dan bahasa.
Kadang merasa kesal dengan orang-orang yang masih berpikiran kuno dan primitif. Mereka yang mikirnya kalo kuliah ini itu nanti susah dapet kerja seakan akan takut banget nggak dapet rezeki. Kebanyakan orang berpikirnya masih monoton terutama orang tua. Mereka mikirnya sekolah - kuliah - lulus - kerja - gaji gede bukan sekolah - kuliah - lulus - buka lapangan kerja - menggaji orang. Sangat monoton kalo siklusnya seperti yang pertama.
Belajar dari kisah pribadi, saya dapat mengambil hikmahnya bahwa nanti di saat saya sudah berkeluarga dan punya anak, saya tidak ingin anak saya merasakan apa yang saya rasakan. Saya akan mensupport passion mereka dan memfasilitasinya. Karena saya tahu, posisi orang tua hanya memberi nasihat dan saran dan saya paham masa depan ada di tangan individu itu sendiri.
Menurut saya, ketika kita belajar atau bekerja sesuai dengan keinginan hati maka akan lebih mudah untuk dijalaninya. Jadi, stop berpikir hanya lulusan dokter dan teknik yang dapat sukses karena setiap orang bisa sukses dengan caranya masing-masing.
So, follow your passion and success will folow you :)
"Hal yang paling menyenangkan adalah hobby yang dibayar".




