Wednesday, February 22, 2017

When Career and Passion Come Together






Passion (kegemaran ; keinginan besar), kata yang nggak asing kita dengar walau berasal dari bahasa asing.  Setiap orang pasti punya kegemaran, hobby, atau mungkin suatu aktivitas yang senang kita lakukan. Sering kita dengar kalau hobby atau kegemaran bisa dijadikan bakat atau cita-cita jika kita fokus terhadap kegemaran tersebut. Tapi nggak sedikit dari kita yang tidak berkeinginan untuk mengembangkan hobbynya. 

Saya ingin mengutarakan pendapat saya bahwa seseorang butuh dukungan dari orang-orang di sekitarnya untuk mengembangkan hobbynya. Sering kita "dibodohi" dengan kata-kata "nilai jelek begini, mau jadi apa ?" "masuk jurusan kuliah ini, mau jadi apa ?" kalimat yang membuat mental seseorang menjadi down. Sekarang gini deh, tiap orang punya cita-cita yang tidak mengharuskan orang tersebut untuk menguasai semua bidang. For example, seorang seniman tidak harus pintar dalam fisika. Seorang politikus tidak harus pintar kimia, seorang pengusaha tidak harus pintar biologi, begitupun seterusnya. Itu lah kenapa sistem pendidikan di negara maju  memprioritaskan siswanya untuk fokus dalam bidang dan bakat mereka. 
Di sini saya mau sharing sedikit dimana saya termasuk ke dalam seseorang yang harus mengubur mimpinya untuk sementara karena belum ada dukungan dari orang-orang di sekitar terutama Ibu. Ya, seperti yang udah pernah saya katakan, saya punya cita-cita menjadi seorang diplomat / editor tapi di sisi lain Ibu saya belom memberi dukungan. Ia punya keinginan sendiri untuk anak-anaknya. Sedih memang, dimana mimpi yang udah kita bangun sedemikian bagus harus pupus untuk sementara. Terlebih belum didukung oleh orang tua sendiri. Saya tahu setiap orang tua ingin anak-anaknya sukses dan berhasil, that's why mereka terkadang menuntut anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau dan menurut mereka adalah yang terbaik. Padahal menurut saya, orang tua memang berhak memberikan saran atau ide untuk masa depan anaknya tapi keputusan kembali kepada individu masing-masing. Kalo memang semuanya udah diatur oleh orang tua, lantas untuk apa anak-anak sejak kecil punya cita-cita ? Toh, kedepannya orang tua yang menentukan. Entah ini pemikiran turun temurun atau memang sudah menjadi budaya kita. Karena menurut info yang saya dapat, di negara maju, seorang orang tua akan membebaskan anaknya untuk berekspresi dan memfokuskan bakat mereka. Bahkan sistem pendidikannya pun memberi prioritas kepada muridnya untuk fokus dengan bakatnya agar terus diexplore. Di negara maju, saat jenjang SMA, seorang murid berhak memilih bidang mana yang ingin mereka pelajari sesuai dengan passion mereka. Jika muridnya senang bermusik, maka ia bisa masuk dalam kelas musik dan mengexplore bakatnya. Sejujurnya, saya lebih setuju dengan sistem pendidikan seperti itu. Sedangkan di Indonesia sendiri, jurusan di SMA masih harus dibagi-bagi lagi. Contohnya jurusan IPA yang masih terbagi menjadi biologi, kimia, fisika, dan bahasa. 
Kadang merasa kesal dengan orang-orang yang masih berpikiran kuno dan primitif. Mereka yang mikirnya kalo kuliah ini itu nanti susah dapet kerja seakan akan takut banget nggak dapet rezeki. Kebanyakan orang berpikirnya masih monoton terutama orang tua. Mereka mikirnya sekolah - kuliah - lulus - kerja - gaji gede bukan sekolah - kuliah - lulus - buka lapangan kerja - menggaji orang. Sangat monoton kalo siklusnya seperti yang pertama.
Belajar dari kisah pribadi, saya dapat mengambil hikmahnya bahwa nanti di saat saya sudah berkeluarga dan punya anak, saya tidak ingin anak saya merasakan apa yang saya rasakan. Saya akan mensupport passion mereka dan memfasilitasinya. Karena saya tahu, posisi orang tua hanya memberi nasihat dan saran dan saya paham masa depan ada di tangan individu itu sendiri. 
Menurut saya, ketika kita belajar atau bekerja sesuai dengan keinginan hati maka akan lebih mudah untuk dijalaninya. Jadi, stop berpikir hanya lulusan dokter dan teknik yang dapat sukses karena setiap orang bisa sukses dengan caranya masing-masing. 

So, follow your passion and success will folow you :)






                                    "Hal yang paling menyenangkan adalah hobby yang dibayar".















Tuesday, February 14, 2017

Sepenggal Teguran





Sampah, hal kecil yang bisa jadi penyebab masalah besar (banjir, kesehatan lingkungan). Gambar di atas mewakili perasaan saya ketika ada seseorang yang membuang sampah sembarangan tanpa rasa dosa. Lebay ?? Berlebihan ?? Udah maklum kok saya dibilang begitu. Sebenernya nggak penting-penting amat sih ngebahas sampah. Ngapain coba ngebahas sesuatu yang notabene barang bekas yang udah nggak kepake. Tapi gimana jika sesuatu yang kita anggap nggak penting malah menyebabkan permasalahan yang genting ? Topik ini saya dapat berawal dari ketika saya mendengar testimoni orang-orang Indonesia yang udah pernah ke luar negeri dan dengan antusiasnya berkata "Sumpah deh di sana tuh bersih bangett, nggak ada sampah sedikit pun, nggak kayak di Indo." Lucu sekali dia bung ! Saya cukup kesal dengan orang yang over proud dengan negara luar yang mereka puji kebersihannya sedangkan di negaranya sendiri buat buang sampah pada tempatnya pun malas. Negara-negara yang kalian puja-puji itu punya rakyat yang bisa diatur dan mau ikutin peraturan. Mereka bahkan punya kesadaran sendiri dengan kebersihan lingkungannya tanpa ada peraturan maupun undang-undang dari pemerintahnya. Sedangkan rakyat kita ? Bisa nilai sendiri lah. Ada peraturan aja masih dilanggar. Lagian apa susahnya sih buang sampah pada tempatnya ? Kan dari diri sendiri bisa jadi contoh buat orang-orang di sekitarnya. Di sini saya nggak mau "pukul" rata semua rakyat Indonesia karena mungkin di antara mereka masih ada yang memilki kesadaran akan kebersihan lingkungan dan saya respect dengan orang seperti gitu. Negara yang mereka puji pun bukan negara sembarangan (re : USA, UK, Aussie, etc). Jangankan dengan negara tersebut, sama negara tetangga (re : Singapore) pun kita kalah. Ada yang bilang kalo negara-negara tersebut punya undang-undang tentang sampah / kebersihan lingkungan. Negara kita juga punya kok. Nih saya kasih tau for your information :

Undang-Undang RI no 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah di Indonesia.
Undang-undang ini mengatur tentang pengelolaan sampah, pembagian kewenangan dan penyelenggaraannya. UU ini ditindaklanjuti dengan PP tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenisnya.
Dalam Undang-undang ini ditetapkan bahwa setiap orang dilarang:
  • memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • mengimpor sampah;
  • mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun;
  • mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan;
  • membuang sampah tidak pada tempat yang telah disediakan dan ditentukan;
  • melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir; dan/atau
  • membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
Kalian tahu, saking sadarnya akan kebersihan lingkungan, mereka bahkan menyimpan sampah di saku celananya sampai menemukan tempat sampah terdekat lho. So, kalian nggak tertarik mengikuti "kebiasaan" rakyat di negara maju yang kebersihannya juara ? 
Saya pernah bertanya kepada seorang warga negara asing (Itali) yang pernah berkunjung ke Indonesia, pertanyaan saya, Apa pendapat Anda tentang Indonesia ? Dia menjawab, "Indonesia negara yang cantik, orang-orangnya sangat ramah tapi sangat disayangkan saya sering lihat sampah di setiap sudut jalan." Siapa yang malu ? Sangat berbanding terbalik dengan pujian kita terhadap negara mereka. Kalo boleh saran, kalian boleh kok memuji negara lain yang kebersihannya emang ok banget bahkan seharusnya negara-negara tersebut harus kita jadiin contoh dan diaplikasikan di negara sendiri. Bukan hanya memuji lalu membandingkan tanpa ada perubahan yang lebih baik.
So, masih mau buang sampah sembarangan ? 
Stop Comparing !!
#SalamJariTengah hahahahahaah :v






Sunday, February 12, 2017

Positive Thinking





Hai readers, berjumpa lagi bersama saya di blog ini. Dalam blog ini, saya mau share tentang positive thinking atau berpikir positif. Kalian tau kan maksud dari positive thinking ?? Positive thinking adalah sebuah pemikiran dimana kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang apalagi hanya dari penilaian kita sendiri.
Btw gambar di atas adalah salah satu cerita yang sangat saya suka dan menyentuh. Cerita tersebut cukup menyadarkan kita dan membuka pikiran tentang penilaian kita terhadap seseorang. Cerita tersebut juga pas dengan pembahasan yang akan saya bahas di blog ini.
Kadang saya heran dengan orang yang dengan mudahnya  menilai orang hanya dari fisik dan apa yang mereka liat. Contohnya, ada seorang wanita ketika dia melihat wanita lain memakai pakaian mini atau terbuka, wanita tersebut langsung menilai kalau wanita seksi itu tidak pernah shalat saat sedang berpergian hanya karena dia berpikir "mana mungkin dengan pakaian sexy seperti itu dia akan pergi ke masjid dan menunaikan shalat" miris nggak sih guys ?? Padahal kalo saya perhatikan, masih banyak wanita yang berpakaian tertutup bahkan berhijab tapi tidak menunaikan shalat pada waktunya tiba. Bukan saya menjudge wanita berhijab, saya hanya ingin meluruskan pemikiran orang-orang sempit. Nggak jarang juga saya berjumpa di tempat ibadah, dimana ada seorang wanita yang pakaiannya bisa dibilang membentuk tubuh tapi masih menjalankan kewajibannya. See ?? Terkadang apa yang orang tunjukan terhadap kita belum tentu seperti apa yang kita pikirkan. Saya juga punya cerita dimana ada seorang pria yang tiap hari rutin ke diskotik untuk membeli minuman keras dan dibawa pulang olehnya. Orang-orang pasti berpikir pria itu pemabuk berat dan menghabiskan uang untuk hal yang nggak bermanfaat. Padahal faktanya, ketika sampai di rumah, pria tersebut membuang minuman tersebut agar mengurangi stock minuman yang ada di diskotik tersebut.  Contoh lain, ini berupa penilaian lisan sih. Jadi, saat sedang dalam perjalanan, saya sempet debat atau bisa dibilang adu pendapat dengan orang di sekitar saya tentang seorang tokoh yang saat itu sedang ramai dibicarakan. Tokoh tersebut "terkenal" dengan gaya bicaranya yang frontal dan emosional. Saat itu, orang di samping saya bilang kalau tokoh itu selalu berkata kasar di lingkungan kerjanya. Info tersebut di dapat dari salah satu temannya yang bekerja dengan tokoh tersebut. Ada yang udah paham point dari cerita tersebut ?? Yep, orang yang di samping saya menerima info secara "mentah" dari temannya yang notabene kita belum tahu apakah temannya tersebut berbagi info sesuai fakta atau tidak. Coba kita posisikan temannya tersebut memiliki rasa tidak suka terhadap si tokoh, otomatis yang akan dia share adalah hal negatif, bukan ?? Jarang sekali orang yang membenci terhadap seseorang akan share kebaikan orang yang dibencinya justru malah sebaliknya dan dalam kasus ini orang di samping saya menerima info secara mentah dan menerimanya pun secara utuh tanpa mencari tahu kebenarannya. 
Saya pribadi, jujur sangat sulit untuk menilai seseorang hanya dari perkataan orang lain karena yang diomongin bisa jadi berbanding terbalik dengan fakta sebenarnya. Saran saya, jangan mudah menilai seseorang hanya dari apa yang kita lihat dan dari perkataan orang lain karena berakibat suudzhan terhadap orang tersebut. Boleh lah kita berpikir subjektif tapi hal itu cukup menjadi penilaian individu dan tidak menghasut orang untuk idem dan sependapat. Terlebih lagi kita belum tahu bagaimana kehidupan seseorang itu sebenarnya. So, be wise guys :)